Fanie's Funny World
the adventurous, the humorous, the beautiful world of mine
Tentang Gw


    Fanie funny
    Bandung, Jawa Barat, Indonesia
    Gadis dewasa berbadan kecil mungil yang menurut dirinya sendiri memiliki hati lapang dan berpikiran lebih dewasa dari usianya. Walaupun kadang masih berbicara selayaknya remaja, bahkan anak TK.
    More..
Posting Sebelumnya...
  • The Papua Adventure II
  • The Papua Adventure
  • Dia seperti Angin Pagi
  • November Reflection
  • Morning of A Wedding - why on earth they want to d...
  • Masih Banyak Orang Baik di Jakarta
  • Pada Sebuah Kereta
  • Change is Inevitable
  • Hikayat Sidangku
  • There He Goes
The Papua Adventure II salam kenal The Papua Adventure Hmm..
its a long advanture ste..
wish u always be with GOD's Hand.
Ditunggu uupdate ceritanya..

=)
thx udah baca, Nov... fanieeeeee....buset...kukira kw gawe dsn..jd pgn k papua,,kira2 mentalku cukup kuat ga yah buat kesana???
tell me more ur stories yah...ampe kpn dsn?ataw jgn2 uda plg kw k bdg?
faniee...ini nana.... Na.. Aq da di Bandung lagi nih..
Well, kw belum tau sebelum kw coba kan.. Datang aja ke sana. Ga perlu kuatir, makanan di desa tempat si Yesi enak2 dan gratis. Ha3.
Kw ambil spesifikasi hukum apa? Siapa tau jasamu bisa dipake si Mei utk advokasi masalah hukum anak2 di sana..
Dia seperti Angin Pagi Fan sisi romantis gw ga banget lah. Gw kga ngerti puisi2. Tp gw penasaran, sapa tuh "DIA" atau "dia" ? Duh, kok anonim sih.. Siapa sih ini..
Hmm.. Dia tuh manusia lah.. Masa makhluk halus..
November Reflection Kita pasti menyesali apa yang telah kita lakukan selama hidup, karena dengan penyesalan itulah kita menjadi lebih baik dalam kehidupan berikutnya... percaya?

Ya... hiduplah dengan sebaik-baiknya. Every little thing counts =)
asiiikknya euyy bejalanan terusssss.... Morning of A Wedding - why on earth they want to do it?? WAWWWWW.......
petualangn km seru jg yah.....
bisa sampe di jypura
keyen buangetzzzzzzzZZZzz
Arsip
  • November 2007
  • Desember 2007
  • Januari 2008
  • Februari 2008
  • Maret 2008
  • Juni 2008
  • Juli 2008
  • Agustus 2008
  • Oktober 2008
  • November 2008
  • Desember 2008
  • April 2009
  • Mei 2009
Links
  • My Friendster Profile


  • A Little Piece of Reza...
  • Open My Life
  • The Knights Black Box
  • WandaBest
Jumat, Mei 01, 2009
The Papua Adventure II
Hikayat Fanie di Tanah Papua
Bagian 2 : Paskah dan Hari-hari di Jayapura/Kotaraja

PASKAH
Salah satu yang membuatku tertarik untuk datang ke Papua adalah iklannya Maya,
"Fan.. paskah disini seru kali lho... Ada jalan obor nya gitu... Keliling2 desa bawa obor pagi2 buta.."

Aku selalu tertarik mengenal kebudayaan2 yang berbeda. Aku belum pernah tinggal di daerah yang penduduknya mayoritas Kristen, sehingga hari2 besar seperti Natal dan Paskah dirayakan biasa-biasa saja, tidak heboh seperti cerita Maya tentang Papua.

Di Gerejaku di Medan (GMII), Paskah dirayakan mulai jam 5 pagi di hari minggu dalam kebaktian di lapangan gereja, mengelilingi api unggun. Itupun tidak begitu banyak jemaat yang datang, banyak yang memilih mengikuti kebaktian jam 9 paginya. Untuk sekolah minggu, selalu ada lomba cerdas cermat Alkitab (yang sering sekali kumenangkan, tentunya... sifat kompetitifku lebih parah waktu aku kecil).
Paskah di Bandung (GII), jadinya kurang menarik dibandingkan di kampung halaman. Berdosakah aku bila kukatakan kalau selama aku merayakan Paskah di Bandung, satu2nya hal yang lebih menarik dari perayaan Paskah di gerejaku di Medan adalah anggur yang dihidangkan pada perjamuan kudus (gerejaku di Medan tidak memakai anggur beneran). Sayangnya, slokinya terlalu kecil.

Yah yah yah... tentu saja, Paskah bukanlah mengenai perayaannya menarik atau tidak, berapa banyak telur yang berhasil dikumpulkan, atau berapa hadiah yang berhasil di dapat dari lomba2nya.. Paskah adalah mengenai Kristus yang telah menebus dosa manusia, juga mengalahkan maut (yang merupakan upah dosa), sebagai tanda ke-Ilahian-Nya.

Tapi, sebagai manusia biasa... tentunya aku menginginkan variasi...

Di Papua, aku bergereja di GPI jemaat Elim di Abepura, gerejanya Donna. Ayahnya Donna adalah salah satu majelis, dan Donna sendiri adalah salah satu pengurus pemuda gereja. Di gereja itu juga ada Pacarnya Donna, Kak Thosa, mahasiswa Theologia tingkat akhir (OH MY.. Donna calon istri pendeta bowww...).

Kebaktian Jumat Agung diadakan dua kali, pagi dan malam. Kebaktian malam ini merupakan kebaktian perjamuan kudus. Pengumuman di kebaktian pagi mengatakan bahwa perjamuan kudus kali ini akan memakai cawan.
Maksudnya?

"Kakak liat aja deh nanti.. " kata Donna, "kalo perjamuan kudus yang pake cawan, perjamuannya lebih kerasa.."
Aku membayangkan lukisan The Last Supper karya Leonardo Da Vinci( yang sering dijadiin sulaman kristik itu lho), dan membayangkan wajahku di wajah salah satu murid.... Hmmm... Ga cocok..

Lalu, sore pun tiba, kami pergi ke gereja. Sesampainya disana, aku tertegun melihat 5 meja bertaplak putih, diatur sehingga membentuk salib, dengan kepala salib terletak dekat mimbar. Sekitar 30-40an kursi diatur mengelilingi meja tersebut.
Kebaktian dimulai, lalu tibalah saat perjamuan kudus. Pendeta yang memimpin berdiri di kepala salib, dan memanggil jemaat untuk duduk di meja perjamuan secara bergiliran, mengisi seluruh kursi. Barisanku mendapat giliran kedua.
Lalu, terdapat 4 cawan besi yang diisi penuh anggur oleh pendeta. Lalu roti dibagikan. Lalu pendeta memberi tanda untuk membagikan anggur. Dua orang majelis yang duduk mengapit pendeta minum dari dua gelas cawan yang berbeda, lalu mereka menggilirkan cawan tersebut ke kursi di sebelahnya, demikian hingga di tengah badan salib, lalu dua orang majelis lain mengambil cawan tersebut dan memberikan cawan baru yang masih penuh kepada jemaat yang duduk di tengah badan salib, lalu cawan baru itu akan digilir hingga pada jemaat kaki salib.

Tibalah giliranku.
Roti yang dipakai adalah roti beragi, bukan hosti, seperti yang biasa dipakai di GII.
Aku sebenarnya rada geli harus berbagi cawan dengan jemaat sebelumku, walaupun cawan-cawan itu sudah dilap dengan tisu tiap kali suatu giliran berakhir. Tapi aku memberanikan diri demi pengalaman baru.
Cawan itu pun sampai di hadapanku. Aku mengangkat cawannya. Berat. Bukan saja karena cawan tersebut terbuat dari besi, tapi juga karena anggur perjamuan ini benar benar red wine yang masa jenisnya lebih besar dari air.
Lalu aku meminumnya.
I got a kick from it!
Anggurnya lebih keras daripada yang digunakan GII. Karena terkejut, aku cuma minum seteguk. Opa yang duduk di sampingku minum dua teguk (rada menyesal sih aku, cuma minum seteguk aja).
Badanku pun terasa hangat walaupun cuma minum seteguk.
Oh.. ini tokh rasa wine beneran..

Untung ini bukan gerejaku. Kalau ini gerejaku, seusai kebaktian, aku pasti langsung ke belakang, ngecek sisa anggur untuk diminum.. hahaha...

Hari-hari di Kotaraja
Setelah Paskah, aku menghabiskan seminggu penuh di Kotaraja. Mayoritas acaraku adalah kebaktian!
Hari Senin ada Paskah kedua (Aku baru tau kalau paskah kedua beneran ada, aku pikir Paskah kedua itu hari libur yang diciptakan PA Bukit Sion SMUNSA Medan, supaya siswa Kristen bisa cepat pulang di hari senin setelah paskah).
Hari selasa, ada kebaktian keluarga.
Hari Rabu, ada kebaktian kaum pria yang diadakan di rumah Donna.
Hari Kamis.... hmm.. kayaknya ini kebaktian anak-anak, tapi karena di rumah Donna tidak ada anak-anak, jadi di hari ini kebaktiannya libur.
Hari Jumat, ada kebaktian pemuda.

Bila tidak kebaktian, aku membaca seharian.
Donna menawarkanku beberapa buku novel tebal karangan Frank E. Peretti, dan Evelen Minutes nya Paulo Coelho.
Aku kenal Paulo Coelho, pengarang favoritnya Gardin (teman kuliahku yang juga ketua angkatan Psy'03), tapi aku ragu dengan nama Frank E. Peretti. Aku jarang membaca karya pengarang yang tidak kukenal, kecuali novelnya fiksi fantasi. Tapi kuterima semua buku yang ditawarkan Donna untuk mengisi waktu.

Buku pertama yang kubaca adalah Prophet, Frank E. Peretti.
Buku ini bercerita tentang seorang pembaca berita dari TV nasional yang sukses, dimana ia telah membawa News6, acaranya, mendapatkan rating tertinggi terus menerus selama 5 tahun. Ia memiliki seorang ayah yang "Nabi". Ayahnya mendapatkan "prophecy", penglihatan mengenai apa yang terjadi, dan ia terpanggil untuk memberitakan kebenaran tersebut. Sayangnya, suatu insiden membuat ayahnya terjebak dalam suatu konspirasi politik, antara Gubernur pro-choice yang sedang re-campaign dan klinik aborsi. Akhirnya ayahnya meninggal, dan sang pembaca berita pun menyadari bahwa ia terpilih untuk meneruskan jejak ayahnya.

Novel ini menyindir budaya pop, dan demokrasi Amerika Serikat. Dimana masalah-masalah moral dianggap abu-abu. Tidak ada lagi yang disebut benar dan salah, dan bila ada yang menyuarakan moralitas, maka orang itu dianggap "tidak berjiwa Amerika", "menentang kebebasan" dan "Sok suci".
Novel ini juga bercerita mengenai integritas dalam bekerja dan panggilan Tuhan. Kadang Tuhan memanggil orang yang tidak pernah menduganya, tapi ternyata bila orang tersebut memikirkan perjalanan hidupnya, ia akan sadar bahwa selama ini Tuhan telah mempersiapkannya sedemikian rupa, dan bahwa ia memang didesain untuk pekerjaan Tuhan yang dipercayakan padanya tersebut.

Novel Peretti pertama yang kubaca begitu memukau dalam penceritaan. Alurnya menarik dan cukup rumit, sehingga membutuhkan konsentrasi dalam membaca. I love the Author!
Maka, novel kedua yang kubaca berasal dari pengarang yang sama, Piercing The Darkness, Frank E. Peretti.
Ketika aku memulai membacanya, aku sempat bingung dan berhenti pada bab pertama. Aku tidak mengerti. Ada iblis dan malaikat, lalu luapan tokoh-tokoh manusia.
Akhirnya aku membaca ulang bab I, mencoba lebih sabar dan tidak membaca cepat.
Novel ini bercerita mengenai peperangan rohani. Pembaca berada pada sudut pandang orang ketiga, dan seakan diberi penglihatan khusus, melihat roh-roh jahat yang menguasai suatu wilayah, dan juga Malaikat yang Tuhan tugaskan untuk mendampingi orang percaya dan orang yang Tuhan pilih.
Konsentrasi sudah dibutuhkan pada bab-bab pertama, terutama disebabkan oleh banyaknya tokoh yang seakan tidak berhubungan. Namun pada akhirnya kebenaran terkuak, dan kita melihat benang merah yang menghubungkan keseluruh tokoh, benang merah yang bernama Rencana Tuhan.

Novel ini juga menyinggung budaya Amerika yang dipengaruhi paham-paham humanistik post modernisme. Membaca novel ini aku seakan diingatkan lagi pada kuliah filsafat humanistik dan praktek2 yang diajarkan kuliah Analisis Eksistensial... oh ya.. dan talkshow Oprah.
Bahkan beberapa dialog dari novel ini merupakan kutipan dari Nietzche, Kierkegaard, Sartre dan eksistensialis lain.
Sumber kecemasan tokoh utamanya, Sally, berasal dari "kebebasan eksistensial" yang (pernah) dirasakannya, setelah kebebasan tanpa batas itu, ia digambarkan hidup tanpa arah dan penyesalan.
Mungkin ini counter-attack dari pandangan kristen terhadap eksistensialisme.

Ceritanya terjalin apik dan sangat menarik, walaupun rumit.
Aku sendiri merasa dibangunkan oleh novel ini, terutama mengenai kuasa Doa. Buku ini menjadi buku fiksi rohani pertama yang kuberi * * * * *.
Recommended, terutama buat teman-teman yang "tergoda" filsafat eksistensialisme. Baca counter-attack nya juga lah ya..

Buku ketiga yang kubaca adalah Eleven Minutes, Paulo Coelho.
Buku ini bercerita tentang Maria, pelacur asal Brazil yang "buka usaha" di Swiss. Ia merumuskan sebuah teori, bahwa hidup manusia itu, dalam 24 jam, inti sebenarnya hanyalah selama "11 menit". Seperti biasanya, Coelho menceritakan secara detil apa yang ada dalam pikiran tokoh utamanya. Walaupun penceritaannya seperti sudut pandang orang ketiga, pembaca seakan juga menjadi Maria.
Karena sebelumnya aku baca buku fiksi yang menegangkan, membosankan rasanya membaca Eleven Minutes ini. Tidak ada aksi yang membuatku menahan nafas. Bahkan pendekatan Maria yang cenderung pesimis mengenai cinta -- optimis mengenai kehidupan (yang ga jauh beda dari pendekatanku sendiri), kurang menarik bagiku.
Jadi aku berhenti membaca setelah menghabiskan 3/4 bukunya... tepat sebelum adegan ranjang. hahahahhaa...


Seminggu di Kotaraja, aku tidak kemana-mana secara fisik. Tapi aku menjelajah jauh hingga ke Swiss melalui bacaanku.
Banyak orang yang menyayangkan, "kok ga ke sini? Kok ga ke situ? ya ampuun... kenapa ga ke tempat ini.. tempatnya keren banget lhooo!!" (orang2 yang ngomong gini, sebaiknya sadar sendiri yaa)

Sebenarnya aku juga menyayangkan aku tidak banyak jalan jalan di seminggu yang panjang itu, terutama karena keadaan di yang belum aman dan penuh ancaman. Udah jauh-jauh ngabis2in tabungan 5 tahun ke Papua/Jayapura, kok ga pergi ke sana-sini.
Tapi, tidak ada yang perlu disesali. At least, aku bisa membaca buku2 yang sangat menarik, yang normalnya tidak akan kulirik karena bukan Fiksi Fantasi atau cerita Detektif. Aku mendapatkan banyak berkat, terutama dari Novel Piercing The Darkness (selama seminggu hari setelah baca, aku heboh mengiklankan novel ini ke teman-teman).

Yah.. bagiku tidak ada perjalanan yang baik tanpa dinikmati, dan aku sangat menikmati perjalananku dalam bacaan-bacaanku. Hmm... moga2 aku ga tambah diejek "anak autis" karena apa yang kubilang barusan.

 
posted by Fanie funny at 14:14 ¤ Permalink ¤ 1 comments
Selasa, April 21, 2009
The Papua Adventure
Ini hari ke duabelas aku bangun dan mendapati aku berada di tempat yang jauh dari tanah kelahiranku. Aku berada di tanah Papua. Tanah yang berseberangan jauh dari kampungku di Pulau Sumatera. Tiap hari disini merupakan cerita baru bagiku, bahkan perjalanan dari Bandung menuju Jayapura pun merupakan suatu petualangan...

Beginilah Ceritanya...


Hikayat Fanie di Tanah Papua
bagian I : Perjalanan dimulai


Aku berangkat dari Bandung pada 9 April 2009, tepat pada saat pemilu berlangsung, dan dijadwalkan akan tiba di Bandara Sentani keesokan harinya, 10 April 2009 (Jumat Agung) sekitar pukul 7 wit.
Rencanaku, begitu tiba di bandara Sentani, Jayapura, aku kan mencari tiket untuk terbang ke Wamena, tempat Maya, teman kuliahku berada. Dia akan menjemputku di Bandara, lalu aku akan menghabiskan 1 minggu di Wamena, lalu pergi ke Jayapura, tempat Mei, teman SMA ku berada. Arus lalu lintas masih sepi saat aku berangkat, bahkan mendapatkan tiket kereta api saat weekend pun mudah.

Ada berita yang mengusik antusiasme diriku yang sedang memulai petualangan, SMS dari Mei yang memberitahu bahwa kondisi sedang GAWAT di Papua. Banyak kerusuhan dengan latar belakang ketidaksetujuan OPM terhadap berlangsungnya Pemilu. Sudah terjadi ancaman bom dan penembakan pada pukul 2 pagi di Abepura.
"Ste, di Abe itu sudah kayak IRAK!" katanya.

Dia menyuruhku membatalkan perjalananku. Maya juga mengirim SMS, telah ada pembunuhan 8 orang pendatang di Wamena. Tapi begitupun, ia juga menambahkan, bila aku berani datang, dia tetap akan menjemputku di bandara Wamena. Aku tidak goyah, tidak ada organisasi separatis yang mampu menyurutkan keinginanku untuk bertualang. Tiket sudah kubeli, dan rasanya sayang sekali kalau uangku hilang melayang karena rasa takut. Lalu, aku tetap melanjutkan perjalanan menuju Bandara.

Sesampainya di Gambir, sekitar pukul 5, aku menelepon orang tuaku, memberitahu aku sudah sampai Jakarta dan sedang menuju bandara. Mereka sudah menonton berita kerusuhan di Papua, namun mereka tetap menyemangatiku untuk melanjutkan perjalanan. Kami pun berdoa bersama via telepon. Hatiku sudah lega, dan akupun semakin semangat untuk melanjutkan perjalanan.


Sekitar pukul 19.30, tiba-tiba mamaku menelepon, dan menyuruhku membatalkan perjalanan. Dia telah menelepon seorang tanteku, kakaknya pamanku yang bertugas sebagai polisi di Papua, dan tanteku itu memberitahunya keadaan sedang MERAH, TEGANG.
Mamaku bahkan berkata, "Biar saja uangnya hilang, ini masalah nyawa. kalau kamu mati, mamapun ikut mati aja."

Bertualang dan bertanggung jawab atas keselamatan diri itu adalah satu hal yang aku sanggupi. Tapi aku tidak sanggup bertanggung jawab atas ketakutan mamaku.

Maka, 2 jam sebelum berangkat, tiba-tiba aku terpaksa mengubah rencana perjalanan. Aku tidak bisa ke Wamena. Tapi, bila aku tinggal di Jayapura, dimana aku akan tinggal? Karena Mei pun mengatakan bahwa ia tidak tinggal di rumahnya dan terpaksa "mengungsi".


Akhirnya aku mendapatkan nomor Donna, juniorku di Psikologi Unpad yang sekarang kuliah di Uncen. Aku menghubunginya, dan ia bersedia menyediakan tempat di rumahnya bagiku, tapi karena kondisi yang cukup gawat apalagi ia juga bertugas untuk kebaktian Jumat Agung, ia tidak dapat menjemputku di Bandara. Kataku tidak apa, tokh ada taksi.
Akhirnya aku memberi tahu mamaku tentang perubahan rencanaku. Ia tetap tidak setuju, tetapi lebih tenang, dan aku pun dibiarkan berangkat.
Di ruang tunggu keberangkatan, aku berkenalan dengan seorang gadis yang juga mau ke Jayapura. Ia mengatakan kondisi masih cukup normal dan dia tidak takut berangkat. Baguslah. Sepertinya keputusanku cukup tepat.

Pukul 1 wita, kami tiba di Bandara Makassar. Aku terpesona dengan desain "rumah kaca"nya, walau desain itu membuatku kesulitan untuk mengecas hp ku yang batrenya sudah senin-kamis.

Sekitar pukul 5.40 wit, aku terbangun dan melihat matahari terbit di atas kepulauan Maluku. Indahnya... Aku pun bersyukur aku memilih untuk berangkat.

Akhirnya, 6.55 wit, aku tiba di Bandara Sentani.
Saat menunggu bagasi, aku bertanya2 kepada gadis yang kutemui di cengkareng, dan bertanya, bagaimana aku bisa pergi ke Kotaraja, daerah tempat Donna tinggal.
Saat itu, gadis itu sedang bersama seorang ibu orang asli Papua, dan ibu itu berkata, "Kamu naik taksi saja. Kalau mau naik taksi biasa, harganya lebih murah. Kalau naik taksi bandara, mungkin bisa nyampe 150 ribu."
"Taksi biasa?"
"Disini, angkot itu namanya taksi..." kata si gadis.
Aku pun tersenyum-senyum.
150 ribu untuk ongkos jalan pertama? OH NO... aku sudah membongkar semua celenganku semasa kuliah untuk petualanganku kali ini.. Kalau ongkos pertama saja sudah sebesar ini, tabunganku akan habis dalam waktu yang sangat sangat cepat.

Sambil menunggu bagasi, kami mengobrol lagi. Ternyata ibu dan si gadis bergereja di tempat yang sama. Selain itu ada juga seorang pendeta orang asli Papua yang sepesawat dengan kami, yang dijadwalkan untuk berkhotbah pada Jumat Agung di gereja mereka.
Telah dikirim mobil untuk menjemput bapak pendeta ini, dan kedua orang wanita itu akan ikut dengan mobil itu.
"Bagaimana kalau kamu ikut dengan kami saja?" ajak ibu itu tiba tiba. "Kami akan melewati Kotaraja, nanti kami drop saja kamu di tempat yang aman, lalu kamu minta jemput teman kamu disitu."

HALELUYA!

asik asik...
"Boleh saja. Terima kasih, bu..."

Dan 10 menit kemudian, aku sudah dalam mobil mereka, menuju Kotaraja. Sesampainya di Kotaraja, Donna sudah menjemputku di depan pom bensin. Mobil mereka pun melanjutkan perjalanan. Sesampainya di rumah Donna, aku pun mandi dan berganti pakaian untuk gereja Jumat Agung.


Ah... Aku sudah sampai di Tanah Papua!!!
Bagi sebagian orang, ini hal yang biasa. Tapi bagiku, ini hal yang luar biasa.
Aku merasa, seumur hidupku, aku terlindungi oleh kotak kaca. Aku melihat bahaya dari luar lalu mengomentarinya, tapi aku sendiri belum pernah merasakan bahaya itu. Aku melihat orang-orang yang menderita, dan menangis karenanya, tapi aku sendiri belum pernah bersama mereka merasakan penderitaan itu. Aku bertualang dalam buku-buku yang kubaca, bukan dalam dunia nyata. Aku menghidupi cerita yang berisi peristiwa yang sering kudramatisir, tapi aku sendiri belum mengambil peranku dalam drama kehidupan ini.
Perjalanan ini adalah kesempatanku untuk berkembang dan mendobrak kotak kaca yang aku tinggali selama ini. Merasakan pengalaman berbeda, dan hidup jauh dari lingkungan nyamanku.
Ini bukan suatu perjalanan biasa.
Bagiku ini pencarian jati diri, untuk menguji diriku sendiri, mampukah aku menghidupi kehidupan yang kucita-citakan selama ini, ataukah aku hanya orang kota biasa.


Aku memang baru tiba, tapi aku sudah belajar suatu pengalaman berharga.
Dimanapun aku berada, Tuhan selalu ada, dan Ia mengambil bagian dalam segala perkara.
Aku tahu aku mengambil keputusan yang tepat untuk pergi, karena aku menyadari Tuhan menyertai dan Ia mempimpin tiap langkahku disini.
Pada waktunya, Ia akan menunjukkan alasan, untuk apa sebenarnya aku datang kesini.
 
posted by Fanie funny at 10:15 ¤ Permalink ¤ 5 comments
Kamis, Desember 04, 2008
Dia seperti Angin Pagi
ANGIN PAGI
by, Stephanie E.C. Sinaga (in blues)


Angin Pagi,
kau dengan lembut menemani,
mengalun dengan sederhana.
Hadirmu tak terlihat indera,
tapi terasa kuat dalam nurani :
menyejukkan, menghangatkan
pada saat bersamaan

Angin Pagi,
dengan bisikmu aku terbangun,
membuka mataku, melihat dunia
warna-warna yang menari-nari.
Kau tak tertangkap mata,
tapi mampu buatku memandang segala pesona.

Angin Pagi,
perlahan kau beranjak, menjauhi mentari.
Beriku ciuman,
sebelum selamat tinggal kau ucapkan.
Balikkan badanmu,
jangan kau lihat ku meratap,
sebab ku tau kau takkan menetap.

Teruslah mengalir, hai Angin Pagi!


(3 Desember 2008)
terinspirasi oleh dia, yang telah menjadi Angin Pagi ku.


Label: Dear Diary

 
posted by Fanie funny at 21:47 ¤ Permalink ¤ 2 comments
Rabu, Desember 03, 2008
November Reflection
Bulan November ini aku ditinggal banyak temanku.
Ada banyak yang kerja di jakarta (ah, ini mah tinggal loncat masuk primajasa doang),
ada Fitri yg ke Lampung (kudu melintasi lautan),
ada Mei, yang pergi ke Papua (ke belahan dunia yang berbeda)

dan ada sobatku, Jo, yang meninggal dalam usia 24 tahun karena kecelakaan.

Hidup itu singkat yah..
Tapi terkadang, waktu singkat yang kita miliki itu, kita buang sia-sia.

Bila dibandingkan umur Bumi yang sudah biliunan tahun, umurnya manusia yang 70-80 tahun hanya seperti mengerdipkan mata.
Hidup seperti rumput, dan keindahannya hanya seperti bunga rumput. Hari ini dia lahir dan berkembang, tapi besok sudah layu dan mati.

Lalu, hidup yang singkat ini, apa gunanya?
Apa yang bisa dan ingin aku lakukan dalam hidup yang singkat ini?
Adakah keinginanku bernilai dalam waktu yang panjang, atau keinginanku itu hanya untuk kesenangan sesaat?

Setelah sahabat terdekatku ini meninggal, pertanyaan-pertanyaan itu menghantuiku.
Rasanya kematian lebih dekat daripada sebelumnya.

Apa yang terjadi bila aku besok meninggal?
Akankah aku dikenang? Seperti apakah orang akan mengenangku?
Akankah di hari penghakiman, aku akan melihat cuplikan hidupku, dan berpikir, "Aku harap aku bisa kembali, dan melakukan semuanya lebih baik lagi"?
Akankah aku menyesali hal-hal yang kulakukan selama hidup?

Padahal sebelumnya, sering sekali aku memikirkan kematian.
Aku mempersiapkan diri untuk itu. Bahkan aku sudah berpikir untuk meninggalkan wasiat untuk mendonorkan organku, mengremasi sisanya, lalu menaburkan abunya di laut.
The living needs space more.

Aku selalu berpikir, aku sudah siap untuk meninggal,
dan lebih baik aku meninggal daripada ditinggalkan.
Tapi, setelah dia meninggal, aku berpikir mengenai kehidupan.
Mengenai waktu yang singkat ini, dan bagaimana mempergunakannya.

Aku mau hidup,
Aku mau menghidupi hidupku sebaik2nya. Melakukan segala yang bisa kulakukan, melakukan yang terbaik yang aku bisa lakukan.

Label: a piece of life

 
posted by Fanie funny at 14:08 ¤ Permalink ¤ 2 comments
Jumat, November 14, 2008
Morning of A Wedding - why on earth they want to do it??
-diary 14 November 2008-


Pagi ini pertama kalinya gw jadi pengiring pengantin alias bridesmaid, atau dalam bahasa Bataknya, Pandongani.
Yang nikah, sepupu kedua gw dari pihak nyokap, Frieda Veronica Soraya Sitorus, yg gw panggil Kak Pida.
Gw emang punya banyak pengalaman "berjalan menuju altar" sebagai Flower Girl, atau berdiri di altar/panggung sebagai penyanyi altar, tapi baru hari ini naik pangkat jadi pengiring pengantin.

Pagi ini juga, untuk pertama kalinya gw ikut dalam kesibukan pernikahan Batak dari awal sampai akhir. Pernikahan sebelumnya yang gw datangi, dimana gw jadi penyanyi altar, gw cuma standby selama di gereja aja. Habis makan, gw langsung pulang.

Pagi ini, gw bangun jam setengah lima, untuk berdandan dan bersanggul (tukang salonnya datang ke rumah). Awalnya gw bingung juga, gimana caranya rambut pendek gw disanggul. Ternyata, rambut gw disasak tinggi, simetris di tengah kepala.

Tekstur sasakannya mengingatkan gw pada motif art deco.
Maybe you really need a degree in architecture engineering to be a hair stylist.

Setelah semua urusan wanita selesai, gw kembali ke kamar Kak Pida untuk melanjutkan urusan wanita berikutnya (urusan wanita emang tiada habis2nya).
Disana gw lihat, Kak Pida duduk di atas tempat tidurnya, memandang lurus menerawang jauh.
Gw mempersiapkan kebaya gw sambil memperhatikan dy lewat sudut mata gw.

Kira kira apa yang dia pikirkan?

Ketika seseorang menikah, dia akan meninggalkan keluarganya untuk bersatu dengan pasangannya.

Ia harus meninggalkan comfort zone nya, rumahnya, kebebasannya sebagai lajang.
Dan mungkin dia mempertanyakan, akankah pernikahannya akan bertahan?




gw & my second cousins
di gedung tempat diadakannya pesta adat.






-------------



Mengapa orang ingin menikah??

Terus terang aja, sejak kelas 2 SD sampai kelas 3 SMA, gw bermaksud melajang seumur hidup.
Banyak faktor yang melatarbelakangi pilihan gw itu.

Mulai latar belakang keluarga gw, nyokap yang wanita karir dan hobi bisnis kesana kemari, dan rata-rata hanya menghabiskan waktu 2 jam perhari di rumah (selain waktu tidurnya). Waktu gw kelas 2 SD, bahkan bokap gw berpetuah, "Nanti kalau kau mau menikah, jangan berkarir. Tapi kalau kau mau berkarir, mending ga usah nikah!"
Anehnya, detik itu juga, di saat gw en teman2 sebaya masih main boneka2an dan rumah2an, gw memutuskan untuk berkarir dan melajang.

Pilihan gw juga didukung cita2 gw, yang dari dulu, sering ga standar cewe. Waktu SD, gw bercita-cita jadi astronot. Gw hobi research hal2 yang berhubungan dengan astronomi, mengerahkan segala fasilitas yang bisa gw peroleh dari sekolah kampung (masa SD gw awali dengan bersekolah di daerah Jamblang, lalu di SD Inpres di Pelabuhan Ratu). Di saat temen-temen gw bermimpi menjadi putri yang diselamatkan pangeran dari cengkraman naga, gw bermimpi menginjak Pluto (siapa sangka beberapa tahun kemudian, Pluto dihapus dari Galaksi Bimasakti? Bye2 Pluto).

Pilihan gw juga didukung tampang gw. Well, I was an ugly duckling. Hobi layangan dan manjat pohon waktu SD bikin tampang gw hitam en kasar. Bahkan ada temen les bahasa Inggris gw waktu SMP yang mendata gw sebagai cowok. Untunglah, produksi progesteron dan esterogen pasca pubertas dalam tubuh gw bagaikan air terjun, semakin dewasa, gw semakin menjadi wanita. Hahahahaha... Oke, waktu gw jadi ugly duck itu, gw bahkan jadi cewe terjelek di kelas versi polling kelas I-9 SMUN 1 Medan. It hurted so bad. Since nobody interested in me, I didn't develop any deep interest in anybody.

Tapi semuanya berubah sejak gw ngalamin 1st love.
Gw mulai berpikir, "Hey, maybe marriage is possible."
Dan gw mulai berdoa,
"Ya Tuhan, jodohkanlah aku dan dia..
Bila kami tidak berjodoh, jodohkanlah..
Bila dia berjodoh dengan orang lain, putuskanlah dan jodohkanlah denganku.."

Lalu, setelah punya pacar pertama waktu kuliah, gw mulai berpikir, "Yes, marriage is possible".
Tapi setelah sakit hati, gw mulai mempertimbangkan untuk pilihan gw semasa kecil.

Jadi, gw ngerti kenapa orang2 punya dorongan untuk menikah, terlepas dari filosofi "Wille zum Leben"-nya Schopenhauer.
tapi juga tak berhenti mempertanyakan, mengapa orang memilih untuk menikah.

Bayangkan saja, seumur hidup dengan 1 orang.
Berbagi masalah-masalah.
Membuat masalah-masalah.
Melahirkan masalah-masalah.

Gw belum tahu, apakah itu akan jadi pilihan gw, jadi gw akan terus mempertanyakan mengapa orang lain memilihnya.
Well, alasan tiap orang untuk menikah berbeda-beda. Ada yang menikah karena cinta, desakan orang tua ato mungkin malah peer pressure, bisa juga karena uang. Jujur aja, kalau pewaris tunggal orang terkaya di dunia ngelamar gw, apalagi kalo dy tinggi dan tampan. Definitely, gw akan pertimbangkan.
Atau, malah ga kan mempertimbangkan. Mungkin langsung jawab Ya.

Well, gw bukan mata duitan. Tapi, lumayan juga, dy bisa funding cita2 gw, untuk mendirikan sekolah di pedalaman Indonesia. Bahkan mungkin, ga kan cuma satu, gw bisa bikin sekolah di tiap pulau terpencil Indonesia. Keren ga sih...

Cukup angan2nya...


Nah, di saat2 tenang gw sebagai lajang, hal yang paling ngebetein adalah, kalau ujug2 gw dapet sms dari temen lama, yang ujug2 nanyain, "siapa pacarmu sekarang" atau "kapan undangannya?"

Ha?? Undangan apa Bu? Sunatan?

Terus terang, itu ngebetein banget. Karena, kalau ada orang nanyain kabar terbaru dari gw, gw akan cerita suatu paket panjang lebar tinggi dan dalam, yang unfortunately, di dalamnya tidak terdapat cerita mengenai pria spesial.

Yang lucu, para penanya ga jelas ini, 98% adalah wanita, dan 96% diantaranya adalah wanita lajang.
Ok2.. gw ngerti.. It's because their biological clock is ticking..
Lagian, mereka juga mengharapkan jawaban "Aku ga punya pacar, kok" dari gw.
Well, sometimes, you'll feel better when you hear somebody else is a lot like you, or even worse than you. That's what infotainments are for.

Gw bukan anti orang yang ingin mengabdikan dirinya untuk keluarga, suami dan anak2nya (mungkin included ibu mertua dan para ipar juga). Tapi, gw masih belum mengerti mengapa mereka bisa begitu.
Gw pengen mengerti.
Sehingga, ketika tiba saatnya gw bertemu dengan orang yang bisa membuat gw merasa demikian, gw akan siap.
Siap untuk memasuki hidup baru,
Siap untuk berkata Yes, I do. Hingga maut memisahkan.



Selamat buat Kak Phyda atas pernikahannya.
Good luck in fighting and juggling...

Selamat juga buat Kak Novie untuk status baru "calon ibu" nya..
Selamat beradaptasi dengan profesi termulia di dunia itu..
 
posted by Fanie funny at 07:24 ¤ Permalink ¤ 1 comments